Apakah Mata Merah Termasuk Gejala COVID-19

Apakah Mata Merah Termasuk Gejala COVID-19?

Assembleiadedeusembrejo –¬†Penyakit karena infeksi Virus Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARV-CoV-2) disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru – paru yang berat hingga kematian. Gejala umum COVID-19 biasanya ditandai dengan demam, batuk, flu, kelelahan, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Tetapi, mata merah dapat menjadi gejala COVID-19 yang baru.

Bagaiamana Gejala Klinis Covid-19 Pada Mata?

Mata adalah organ tubuh yang menjadi perhatian dalam era Pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini, karena rentan untuk menjadi lokasi penularan langsung melalui sentuhan tangan atau melalui droplet. Angka prevalensi klinis mata pada kasus COVID-19 bervariasi, berkisar 0,8% hingga 31,6%. Pasien COVID-19 yang datang ke klinik Dokter Spesialis Mata dengan keluhan mata merah mungkin dapat dipertimbangkan sebagai manifestasi okular (mata), sampai terbukti bukan. Sampai saat ini belum ada manifestasi okular pada COVID-19 yang mengancam penglihatan secara langsung

Hubungan antara Gejala Klinis Pasien COVID-19 pada Mata dengan Gejala pada Tubuh Secara Keseluruhan (Sistemik)

Pasien COVID-19 mungkin saja datang ke Klinik Dokter Spesialis Mata dengan atau tanpa ada gejala sistemik. Gejala yang timbul pada mata pasien COVID-19 dapat muncul lebih awal dari yang dipresiksi sebelumnya . Guangfa Wang, seorang dokter yang turut melakukan penanganan COVID-19 di Wuhan dan terinfeksi Virus SARS-COV 2, mengeluhkan mata merah beberapa hari sebelum munculnya gejala pada pernapasannya

Faktor risiko yang menyebabkan munculnya gejala pada organ mata seseorang antara lain :

  • Frekuensi menyentuh mata menggunakan tangan yang sering
  • Usia > 60 tahun
  • Penggunaan obat imunosupresi
  • Kelainan pada saluran air mata
  • Berenang
  • Bekerja sebagai tenaga medis

Mata sebagai jalur penularan COVID-19

Mata dapat menjadi jalan bagi masuknya Virus SARS-CoV-2 melalui dua mekanisme, yaitu :

  • Melalui jaringan permukaan mata (kornea & konjungtiva)
  • Ditemukannya Virus SARS-CoV-2 pada saluran air mata, yang dapat menyebabkan infeksi sistemik jika masuk ke dalam saluran pernapasan melalui rongga hidung atau menyentuh hidung dengan menggunakan tangan yang terkontaminasi oleh air mata yang mengandung Virus SARS-CoV-2
  • Deteksi Infeksi COVID-19 pada Mata

Dari seluruh gejala klinis COVID-19, Virus SARS-CoV 2 dapat terdeteksi melalui mata pada 4% kasus. Dengan adanya hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terkonfirmasi positif tersebut, air mata tetap potensial menjadi sumber penularan. Manifestasi okular dapat muncul sebelum, secara parallel, maupun sesudah munculnya gejala sistemik

Penanganan Kelainan pada Mata yang Terkait COVID-19

Penanganan kelainan pada mata yang terkait COVID-19 dapat dibedakan menjadi dua, yakni pada pasien yang sadar atau pada pasien dengan gangguan kesadaran yang ada di Intensive Care Unit (ICU). Untuk pasien dengan kesadaran yang baik, sebagian besar akan mengalami kelainan. Pasien dengan kesadaran yang baik, sebagian besar akan mengalami kelainan pada permukaan mata yakni peradangan pada lapisan permukaan mata (konjungtivitis).

Secara umum perjalanan penyakit alamiah konjungtivitis pada COVID-19 bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri (self limited). Rata-rata peradangan yang terjadi pada lapisan permukaan mata muncul dalam rentang 6 hari gejala COVID-19 dan dapat berlangsung selama kurang lebih tiga hari dengan rentang 1 hari sampai maksimal 1 minggu. Oleh karena itu penanganan pasien terinfeksi COVID-19 bersifat konservatif atau suportif, seperti air mata buatan yang berfungsi sebagai pelumas dan kompres dingin

Sumber:

Kacamata Nanospec